Keadilan Ala Barat : Filsuf Kontemporer - Rawls
Dari sejak pendiriannya, pemikiran politik Amerika memiliki daya-tahan lama untuk memusatkan perhatian/bahasan pada keadilan. Pembukaan...
-
Logika-positivisme merupakan hasil mengkombinasikan aspek-aspek sentral dari positivisme yang dikemukakan oleh August Comte dan Ernst Ma...
-
Ludwig Wittgenstein mengunjungi Cambridge untuk mempelajari logika di bawah bimbingan Russell, tetapi kemudian dengan cepat ia menetapka...
-
Hidupmu tragis, engkau tau ! Tapi kau takkan berlari karena hidup bukan untuk dihindari tapi dijalani. Engkau sadar, kau berada diseki...
-
a. Soren Kierkegaard ( 1813-1855 ) Kierkegaard mempunyai banyak arti, diantaranya seorang filsuf, penulis-relijius, satiris, psikologi...
-
Analisis Rusellian telah di-identifikasi lebih kepada analisis-logika daripada analisis-bahasa dan sudah disampaikan pada paragraf sebel...
-
Metafisika mengalami semacam kebangkitan dalam filsafat-analitik post-bahasa. Meskipun filsafat-analitik kontemporer tidak-mudah mend...
-
Saya bisa memahami kalian yang berpendapat musik adalah haram hukumnya (membuat, memainkan, mendengarkan, menikmati). Pendapat yang ten...
-
a. Dapatkah kita mengetahui realitas-objektif ? Subjektif terutama dicirikan kepada pikiran-yang-mem-persepsi. Objektif dicir...
-
a. Alamiah/Kodrat dan Konvensi/Kesepakatan Perbedaan antara Physis (alam) dan Nomos (adat, hukum, konvensi/kesepakatan) adalah tema ...
-
a. Seni dan Psikologi Dalam bidang seni-visual eksistensialisme telah memberi banyak pengaruh, yang paling jelas adalah pada gerakan e...
Thursday, December 26, 2019
Bersamamu
Dengarkah ?
Batu batu teriak memekak
Ya, kakimu ! kakiku !
Menginjak seraya tergelak
Ringan, mata memaling muka
Sekuat nyali melolong tinggi
Ceria hati tega berlalu
Kita, terlalu bahagia !
Terganggukah ?
Berisik kerikil, keruh mengaduh
Berserak serak marah !
Mengamuk geram !
Nyatanya
Kita beralih ke bunga !
Berlimpah warna, ucapmu malu
Lembut mendekap, menarik syahdu
Heii, kupu indah ! kejutmu lalu
Nyaris berlari kita memburu
Riang derap tawa dipacu
Berebut tangan, merengkuh rindu
Perdulikah ?
Desir pasir meratap perih
Berhambur iba, meruntuh pedih
Sedih bersimpuh, merintih lirih
Akhh ! rupa kita berpura tuli
Berkali pula batin membuta
Cukuplah berdua, bisikmu gila !
Di bawah sana, biarlah merana !
Bekasi, 29 Desember 2019
Wednesday, December 18, 2019
Mereka
Pada awalnya pagi,
Menatap puncak, menjulang di ketinggian sana
Cemas berkerumun
Di belakang, keras orang orang berbisik
Senyum ramah, mengiris sinis
Berdirilah, membusung dada
Setapak demi setapak terseok
Melangkah, merambat
Mendaki tiada henti
Terpeleset, terpelanting,
Terluka sendiri..
Jatuh, menurun berulang kali
Riuh girang, mereka bergelak tawa !
Pada akhir, sore menjelang
Remang di puncak, sepi sendirian
Diam..
Sekuntum bunga kupetik
Tegap, menatap jauh ke bawah sana
Orang orang saling bertepuk tangan
Riang berloncatan, berdekapan
Mereka terus tertawa !
Bisu..
Sejenak sunyi mengisi
Lantang teriakan lalu menggema
Terimalah bunga ini !
Buat kalian !
Tangan ini melempar begitu saja
Pulanglah, teruslah bahagia !
Bawa serta anak istri kalian bahagia !
Bekasi, 19 desember 2019
Subscribe to:
Posts (Atom)
